Sep 11, 2016

Merindu (lagi)

Hasil gambar untuk danbo


Seandainya keharmonisan itu bisa dibeli,
aku ingin membelinya satu paket bersama ketentraman.
Namun itu tak mungkin terjadi, karena aku tak pernah menemukan suatu keadaan dimana uang dapat ditukar dengan hal semacam itu.


Tapi mengapa kebanyakan orang dewasa selalu menjadikan uang sebagai tolak ukur kebahagiaan?
Mengapa?

Apakah mereka lupa, bahwa kebahagiaan itu sejatinya datang dari rasa syukur serta hati yang ikhlas, bukan dari hati yang selalu dihiasi dengan keirian dan prasangka buruk.

Aku hanya tak benar benar menyangka, bahwa dari uang bisa menimbulkan pertengkaran hebat.
Dari uang bisa menimbulkan rasa permusuhan, tak pandang apakah dia teman atau bahkan keluarga sendiri.

Ah..
Tak ada gunanya aku meributkan perihal uang,
Aku belum cukup dewasa untuk mengerti masalah ini.
Aku hanya merindukan sesuatu yang telah lama pergi dari sini.

Yah, aku rindu akan hmm keharmonisan dan mmm,, rasa tentram..
Telah lama aku tak berjumpa padanya, kemanakah gerangan engkau wahai harmonis?
Apakah keharmonisan hanya sekedar teori di fisika?
Apakah keharmonisan itu hanyalah bayangan semu?
Apakah aku tak bisa mencicipi sedikit saja rasa itu?

Teman-temanku, mereka bilang bahwa aku beruntung.
Mereka bilang bahwa aku bahagia.
Ku bilang bahwa mereka semua salah.
Mereka tidak mengenal aku.
Ibarat permen, mereka hanya tau aku dari kulitnya saja dan tak tau apa yang ada di dalamnya.

Aku bingung.
Aku lelah.
Stress kian sering berkunjung.
Ingin rasanya ku berteriak.
Ingin rasanya ku menghilang.
Tapi aku percaya, Tuhan pasti akan selalu bersama hamba-hambanya yang bersabar.

Atas izin-Nya, aku akan bersabar menantimu, wahai keharmonisan.
Ku harap kau segera datang kesini, dan jangan lupa untuk mengajak 'rasa tentram' untuk singgah.

Ku tunggu kehadiranmu.
11 September 2016,
Tertanda


Perindu Sebuah Keharmonisan





Share:
Post a Comment