Jun 11, 2016

Datanglah lagi, nanti.

Datanglah lagi, nanti.
Datanglah lagi nanti, kepadaku.
Disaat kau merasa telah siap.
Disaat kau telah merasa bahwa itu adalah waktunya.
Disaat kau telah yakin bahwa itu adalah saatnya kau untuk menyempurnakan separuh agamamu.
Disaat kau merasa telah mampu, untuk menjadi seorang pemimpin bagi para calon mujahid dan mujahidahmu.

Aku tak pernah menginginkan adanya penantian di kisah ini.
Tidak ada yang salah dengan penantian.
Hanya saja, aku tak mau waktu ini akan terbuang sia-sia karena menantikan sesuatu yang belum tentu terjadi.

Seberapa lama kau menanti.
Seberapa jauh jarak yang didapati.
Seberapa banyak helaian rindu bersemayam di sanubari.
Tetap saja, jika DIA tak menakdirkan untuk saling mengisi, selamanya tak akan pernah bisa untuk saling mengisi.

Daripada saling menanti, lebih baik saling memantaskan diri di hadapan Illahi.
Memantaskan diri agar dapat meraih ridho dan cinta dari-Nya.
Dan, biarkan untaian doa di ujung sajadah yang menjadi saksi dari kisah perjalanan ini.

Palembang, 11 Juni 2016.

Ttd, 





Share:
Post a Comment