Friday, January 1, 2016

Burung - Burung Manyar, Arti Dari Sebenarnya Pengorbanan.

Burung-burung manyar adalah salah satu roman karya Y.B. Mangunwijaya yang terbit pada tahun 1981. Awal gue tau buku ini adalah dari buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Dan juga,buku ini pernah mendapat penghargaan tulis Asia Tenggara tahun 1983 (South East Asia Write Award 1983). Nah,mulai dari situ gue tertarik untuk baca buku ini. Beruntungnya,buku ini gak susah gue cari karena udah tersedia di perpustakaan sekolah.



Jadi,burung-burung manyar ini bercerita tentang sekilas sejarah Indonesia tahun 1934 - 1978. Dengan bertemakan "Nasionalisme" dan latar yang digunakan pun sangat apik. Mulai dari ketika Belanda menjajah,lalu kedatangan Jepang sampai masuk masa orde baru. 

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Setadewa atau yang kerap disapa Teto.Teto berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Papinya,Letnan Barjabasuki adalah kepala Garnisun divisi 1,sedangkan maminya merupakan wanita berparas cantik keturunan Indo-Belanda. Itulah sebabnya mengapa Teto dapat dengan mudah bergaul dengan anak-anak Belanda maupun Indonesia. Teto juga memiliki cita-cita ingin menjadi KNIL seperti papinya. 

Kehidupan keluarga Teto menjadi kacau ketika Tim Jepang menduduki Indonesia. Papinya ditangkap kemudian disiksa oleh pasukan Jepang. Tak tahan melihat sang papi disiksa, akhirnya sang mami mengorbankan dirinya demi menyelamatkan sang papi. Sang mami rela menjadi wanita penghibur bagi para tentara Jepang. Sang papi pun akhirnya dibebaskan oleh tentara Jepang.

Melihat kejadian itu,Teto sangat membenci Jepang dan berniat bergabung dengan tentara KNIL. Berkat kedisiplinannya,ia pun diangkat menjadi komandan patroli dalam kurun waktu 2 bulan saja.

Adalah mayor Verbruggen yang mengangkat teto menjadi letnan. Itu dikarenakan teto cukup menguasai wilayah di Jakarta. Dan ternyata, Marice (maminya Teto) pernah menjadi kekasihnya Verbruggen yang tidak akan mungkin pernah dilupakannya.





Disisi lain,Larasati atau Atik yang merupakan teman sepermainan Teto sejak kecil ternyata berpihak pada Republik. Teto mengetahui informasi itu berdasarkan surat yang ditinggalkan Atik di bekas rumahnya dulu. Dari surat itu,diketahui bahwa Atik kini bekerja sebagai sekretaris pemerintah RI. Perasaan kesal,cinta dan marah bersatu padu dalam benaknya. Teto mencintai Atik,namun Republik juga merupakan musuh NICA. 







Tepat pada tahun 1946 terjadi hal yang sangat membuat Teto ingin marah. Republik menyerang secara membabi buta. Dan, tepat ketika Belanda mengambil sasaran di tepi sawah, ayah Atik gugur dalam serangan itu. Kota Yogyakarta dikuasai Belanda. Banyak kegaduhan yang timbul pada saat itu. Bersamaan dengan itu, Jenderal Spoor tewas. Dan akhirnya republik menang.


Penyerahan kedaulatan kepada RI sebagai hasil KMB di Den Haag telah berlangsung.  Atik dan ibunya pun berziarah ke makam ayahnya.  Pikiran Atik menjadi tidak karuan, antara kemenangan Republik dan kekasihnya, Teto, tentara KNIL yang dikenal sebagai pengkhianat bangsa. 

Beberapa tahun kemudian setelah kemerdekaan,Teto menyempatkan diri untuk mengunjungi makam maminya di Magelang. Kesempatan itu juga ia pakai untuk melihat rumahnya dulu,tempat dimana ia bisa berkumpul bersama orangtua serta teman-temannya


Teto tak menyangka bahwa Atik kini telah menikah dengan seorang dekan fakultas kedokteran. Atik juga menjabat sebagai kepala Direktorat Pelestarian Alam.


Bagi Atik dan Suaminya, Teto sudah dianggap seperti saudara sendiri. Berat bagi Teto untuk menyembunyikan perasaan cintanya dulu. Pun atik, ia tetap mendambakan Teto untuk berada disampingnya, selain daripada suami dan anak-anaknya. Atik merasa ada hubungan batin diantara mereka berdua. Namun, Teto harus tetap menjaga sikap agar tidak menimbulkan salah paham antara dirinya,Atik dan Suami Atik sendiri. 


Malang nasib Atik dan suaminya. Ketika mereka tengah berangkah menuju Mekkah,pesawat yang mereka tumpangi jatuh.seketika menabrak bukit. Mereka pulang hanya membawa nama. Anak-anak mereka pun menjadi yatim piatu. Akhirnya, Teto menjadi ayah dari ketiga anak tersebut dan Bu Antana menjadi nenek bagi mereka bertiga.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Roman ini memberikan banyak sekali pelajaran moral,baik itu tentang kehidupan maupun cinta kasih. Ketika kita mencintai sesuatu, banyak hal-hal yang kan dikorbankan seperti; waktu,uang,tenaga,harga diri bahkan nyawa sekalipun. Tapi,percayalah. Kelak, pengorbanan itu akan berbuah sangat manis melebihi manisnya madu. Karena,hanya dengan pengorbanan,kau akan menemukan arti dari kebahagiaan sesungguhnya. :)


- Dibalik beratnya pengorbanan, terdapat kebahagiaan yang menanti. [RAN] -



Share:
Post a Comment